"Guru, Apa pengertian Manusia?" Tanyaku.
Guru Ukub memandangku, menghela napas panjang dan menjawab: "Manusia adalah makhluk yang bertanggung jawab, yang diciptakan dengan sifat-sifat ketuhanan."
Sifat - sifat ketuhanan? Tanyaku lagi.
"Ya Nak, pada diri manusia memang ditemukan sifat-sifat Tuhan. Tuhan bersifat pengasih, penyayang, pemurah, pemaaf, berkuasa, berkehendak, melihat mendengar, berkata-kata, berilmu, hidup dan sebagainya. Semua sifat tersebut ada dalam diri manusia, sehingga ada aliran dalam ilmu ketuhanan yang menyamakan Tuhan dengan manusia.Tetapi sebenarnya sifat-sifat tersebut diberikan oleh Allah kepada Manusia sesuai dengan kemanusiaanya."
"tentu saja Manusia harus mengerti diri mereka terlebih dahulu, apabila sudah meneliti diri mereka tentu mereka akan mengenalnya. Sehingga mereka mengerti apa yang menyebabkan manusia-manusia terdahulu maju atau hancur, dari sana kita akan mengambil pelajarannya. Sehingga dari hasil tersebut manusia akan mengenal manusia."
"Tapi Guru, di zaman dewasa ini, hampir tidak ada suatu bangssa atau kelompok manusia yang mengambil sikap berlainan dengan bangsa-bangsa eropa, baik mengenai keyakinannya maupun teori-teori kemasyarakatannya. Contohnya Teori Evolusi Darwin, Manusia berasal dari kera."
"Karena itu jangan heran kalau sekarang ini manusia berpola hidup seperti hewan." Sahut Guru
Minggu, 13 September 2009
Minggu, 06 September 2009
Persaingan
"suka dan duka hari ini saya alami Guru."
"kenapa Anakku?" Tanya Guru Ukub.
"kawan saya, sejak masih sekolah dulu Guru. Kami sempat berpisah setelah selesai SMA, dia mengikuti Orangtuanya pindah kerja. Sampai akhirnya saya bertemu dia lagi di tempat kerja."
"Lucu sekali rasanya mengingat waktu itu. Dulu kami selalu bersaing dalam hal apapun, khususnya dalam hal pelajaran disekolah. Lucunya, karena hal itu saya selalu emosi dan kadang kami saling bermusuhan Guru, tapi saya akui memang dia selalu lebih unggul dari saya."
"Dan itu sampai sekarang. Sukanya, Hari ini kawan dekat saya itu naik jabatan dikantor. Dukanya, bukan saya yang menempati posisi itu. Memang calon yang akan menempati posisi itu adalah kami berdua. Tapi harus kembali saya akui, dari dulu bahkan sampai sekarang pun dia memang lebih pintar dari saya. Seolah-olah saya selalu menjadi bayangannya. Untungnya saya tidak seperti dulu yang harus menjadikannya musuh lagi" Ceritaku sambil tersenyum.
"Nak, memang, setiap orang itu memiliki naluri untuk berlomba-lomba dalam kebajikan. Tapi celakanya, kadang kita sering melihat pesaing kita itu sebagai musuh yang dapat merintangi kita untuk berbuat kebajikan. Melihat sesuatu yang sama atau bahkan lebih, sering dipandang sebagai sebuah ancaman. bila niat salah, bisa menghancurkan kita"
"Kita harus memiliki mental bersaing secara positif, kita harus menanggapi adanya saingan dengan senang hati. tak perlu emosional, Lihatlah dengan hati yang jernih. Pesaing itu adalah karunia Allah yang tak ternilai. Pesaing adalah sparring partner yang akan memacu kita agar lebih berkualitas."
"Lagi pula bayangan tidak selalu dibelakang Nak. Berputarlah, bayangan akan tepat berada di depanmu"
"Ingat Nak, Orang-orang yang suka iri hati, dongkol, sebel, kepada prestasi orang lain, biasanya tidak akan unggul. Berani bersaing secara sehat dan positif adalah kunci menuju gerbang sukses."
"kenapa Anakku?" Tanya Guru Ukub.
"kawan saya, sejak masih sekolah dulu Guru. Kami sempat berpisah setelah selesai SMA, dia mengikuti Orangtuanya pindah kerja. Sampai akhirnya saya bertemu dia lagi di tempat kerja."
"Lucu sekali rasanya mengingat waktu itu. Dulu kami selalu bersaing dalam hal apapun, khususnya dalam hal pelajaran disekolah. Lucunya, karena hal itu saya selalu emosi dan kadang kami saling bermusuhan Guru, tapi saya akui memang dia selalu lebih unggul dari saya."
"Dan itu sampai sekarang. Sukanya, Hari ini kawan dekat saya itu naik jabatan dikantor. Dukanya, bukan saya yang menempati posisi itu. Memang calon yang akan menempati posisi itu adalah kami berdua. Tapi harus kembali saya akui, dari dulu bahkan sampai sekarang pun dia memang lebih pintar dari saya. Seolah-olah saya selalu menjadi bayangannya. Untungnya saya tidak seperti dulu yang harus menjadikannya musuh lagi" Ceritaku sambil tersenyum.
"Nak, memang, setiap orang itu memiliki naluri untuk berlomba-lomba dalam kebajikan. Tapi celakanya, kadang kita sering melihat pesaing kita itu sebagai musuh yang dapat merintangi kita untuk berbuat kebajikan. Melihat sesuatu yang sama atau bahkan lebih, sering dipandang sebagai sebuah ancaman. bila niat salah, bisa menghancurkan kita"
"Kita harus memiliki mental bersaing secara positif, kita harus menanggapi adanya saingan dengan senang hati. tak perlu emosional, Lihatlah dengan hati yang jernih. Pesaing itu adalah karunia Allah yang tak ternilai. Pesaing adalah sparring partner yang akan memacu kita agar lebih berkualitas."
"Lagi pula bayangan tidak selalu dibelakang Nak. Berputarlah, bayangan akan tepat berada di depanmu"
"Ingat Nak, Orang-orang yang suka iri hati, dongkol, sebel, kepada prestasi orang lain, biasanya tidak akan unggul. Berani bersaing secara sehat dan positif adalah kunci menuju gerbang sukses."
Langganan:
Postingan (Atom)
